Mbah Putri dan karpetku

ira1Hari ini aku nggak kemana mana- nggak ada acara keluar rumah. Aku putuskan untuk beresin kamar pribadi beserta barang barang yang tersimpan di lemari. Ketika lemari kubuka sebuah karpet merah terjatuh.. Ini karpet mini, dengan ukuran setengah meter lah.Saat itu juga aku teringat kepada sipembuat karpet, yang telah pergi untuk selamanya.

Kilas balik cerita pada saat itu aku masih usia sekolah. Biasa kan jaman sekolah selalu aja ada tugas untuk membuat prakarya. Salah satu prakaryaku saat itu adalah membuat karpet dari benang wol yang di pintal. Membuat karpet seperti ini harus dengan penuh kesabaran pada saat memasang wol satu persatu diatas alas plastik yang memang sudah ada lobang lobangnya.

Kebetulan Mbah ku ( Mbah Mutmainah ) sedang tinggal dirumah ku.”Mbah mau nggak ya bantuin aku buat karpet ini”,begitu yang ada difikiran ku saat muth-pasfoto1itu . Rasanya sudah mulai bosen karena sudah setengah jalan memintal benang tapi karpet nggak jadi-jadi. Akhirnya biasalah jurus rayu merayu aku lancarkan dan Mbah itu memang mbah ku yang paling baik apa yang aku minta pasti di kabulin .

Singkat cerita mbah bantuin memintal benang wol itu dan dalam waktu singkat jadilah karpet yang cantik. Wah senangnya bukan main., prakaryaku akhirnya selesai juga.

Mbah ku tinggal dirumah kurang lebih hanya 3 bulan, tapi kebersamaan dalam waktu yang singkat itu banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kepribadiannya.

Dalam kesederhanaan dan keluguannya beliau selalu menerima apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Beliau termasuk pekerja keras alias suka bekerja, nggak pernah mau tinggal diam. Salah satu hobi beliau adalah nyabutin rumput. Ibu ku sering melarang nya, tapi nggak pernah di denger. Kata beliau : ” Aku nggak mau nganggur enak begini ada kegiatan”. Sebagai anak menantu tentunya ibu serba salah ; dibiarin kesannya tega banget mertua disuruh nyabut rumput tapi dilarang juga nggak mungkin. Akhirnya terserah mbah saja- asal mbah senang dan nyaman.

Mengenai makanan mbah juga nggak pilih pilih. Salah satu makanan favoritnya adalah sayur lompong ( keladi ). Katanya sayur lompong itu merupakan sayur kenangan jaman Belanda karena waktu perang dulu mbah sering bikin sayur lompong. Ketika aku mencicipi sayur lompong itu hmmm…. ternyata enak juga. Di era merdeka seperti ini sayur lompong masih enak kok nggak kalah dengan sayur asam atau sayur kacang merah.

Satu hal lagi dan juga yang sangat penting yaitu ….persediaan sirih nggak boleh kosong….

Kalau malam tiba mbah sering cerita dimasa mudanya yang katanya nggak pernah sekolah tinggi. Sambil cerita kadang tangannya suka mijetin atau ngelus-elus aku disertai nasihat agar aku rajin sekolah dan belajar biar pinter. Ini nasihat nenek pada semua cucunya.

Sekembalinya mbah ke Karang Sari  rumah kembali terasa sepi seperti ada yang hilang. Sampai waktunya hari raya tiba kami sekeluarga pulang kampung untuk berlebaran dan menjenguk mbah. Setibanya disana mbah langsung bilang:”Ira kamu harus tidur di sini yaaa, jangan tidur di mana- mana disini juga ada tv”, sambil menunjuk tv hitam putih di depan kamar Bude Paryo. “Iya..iya”, .. aku sih iya aja dan kebetulan Mbak Devi dan Mas Patriq dari Semarang juga berlebaran disana jadi aku nggak kesepian karena ada teman bermain-main.

Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa Mbah Putri semakin tua. Menjelang akhir hidupnya aku sempat menjenguk beliau di Karang Sari. Tetapi situasinya sudah lain -sudah tidak ada sambutan hangat lagi karena Mbah Putri telah pikun dan nggak terlalu mengenal aku lagi.

Walau hanya dalam waktu singkat pertemuanku dengan Mbah karena jarak yang cukup jauh antara Bogor -Jakarta- Karang sari tapi aku bersyukur pernah ngerasain bercanda dengan nenek . Maklum nenek dari pihak ibuku sudah meninggal dunia semenjak ibuku kecil.

Andai boleh menawar waktu kepada Sang Pencipta ingin rasanya setelah aku bekerja dan berpenghasilan mengajak Mbah jalan-jalan dan membelikan sesuatu yang beliau suka.Tapi kuasa Tuhan berkata lain.

Kini aku hanya bisa mendoakan semoga Mbah dilapangkan jalannya menuju tempat yang terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin

By: Ira Purwanti

ira-dan-embah1

Ira Purwanti (jongkok memakai baju putih berlogo Ira) bersama mbah putri menghadiri pernikahan mbak Titi Ruslainah dan Mas Ruslan Maulana

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s