Ibu Mutmainah merupakan putri ke-4 pasangan Eyang Mochamad Chasan dan Eyang Tuminah. Beliau seorang yang sederhana,lugu tapi pekerja keras.
Ibu Mutmainah menikah dengan Bapak Ruslan Sumodihardjo seorang Kepala Sekolah di Karangsari-Banyumas. Pak Ruslan adalah putra seorang perangkat desa /bau desa sahabat Eyang Mochamad Chasan .
Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai 4 orang putra dan 8 orang putri.
1. Ibu Surtinah , lahir tanggal 21-12-1921. Beliau menikah dengan Bapak Suparyo-karyawan Pegadaian ( putra Ibu Mursidah-kakak ibu Mutmainah). Mereka dikaruniai 6 orang putra dan 2 orang putri, 12 orang cucu dan 6 orang buyut. Ibu Surtinah meninggal dunia pada tahun 2004 sedangkan Bapak Suparyo meninggal dunia tahun 1995.
2. Ibu Sudinah, lahir tanggal 20-2-1923. Menikah dengan Bapak Thoyib Wiriodihardjo seorang perwira kepolisian. Mereka dikaruniai seorang putra dan 2 orang putri. Putri pertamanya telah meninggal dunia dalam usia 8 bulan. Pasangan Ibu Sudinah dan Pak Thoyib dikarunia 8 orang dan buyut 2 orang.
3. Ibu Suryati, lahir tanggal 31-12-1924. Menikah dengan Bapak Sudhirno Sumowihardjo seorang carik. Mereka dikaruniai putra 2 orang dan putri 2 orang. Pasangan ini dikaruniai 10 orang cucu dan 5 orang buyut . Bapak Soedhirno telah meninggal dunia pada 29-8-1986.
4. Ibu Soemarti, lahir pada tanggal 22-11-1926. Menikah dengan Bapak RSW Djojowidigdo dan dikarunai 2 orang putra, seorang putrin dan 2 orang cucu. Bapak RSW Djojowidigdo (Pak Sony) meninggal dunia pada tanggal 26-10-2003.
5. Bapak H. Harsono, lahir tanggal 5-2-1929. Menikah dengan Ibu Hj.Muldiyanti dan dikarunia 4 orang putra dan 3 orang putri. Putra ke-3 meninggal dunia tahun 1977 dalam usia belia.
Pasangan ini dikaruniai cucu 13 orang cucu. 1 orang cucu telah meninggal dunia dalam usia remaja. Bapak H. Harsono meninggal dunia pada tanggal 30-8-2006 sedangkan Ibu Hj. Mudiyanti telah mendahului pada tahun 1999.
6. Ibu Tutiami, lahir tanggal 23-2-1932. Menikah dengan Bapak Nursid Karto Siswoyo dan dikaruniai 2 orang putra dan 4 orang putri serta 17 orang cucu. Bapak Nursid meninggal dunia pada tanggal 4-10-2001.
7. Bapak DR. Subagyo Sumodihardjo lahir tanggal 11-7-1933. Menikah dengan Ibu Yayah Rodiyah dan dikaruniai 2 orang putra-putri serta 1 orang cucu.
8. Sultonah, meninggal dunia waktu kecil.
9. Bapak Sukadi, lahir tanggal 3-9-1935. Menikah dengan Ibu Ken Wijayanti dan dikaruniai 2 orang putra-putri serta 3 orang cucu. Bapak Sukadi meninggal dunia pada tanggal 17-11-2004 dan Ibu Ken Wijayanti meninggal dunia tanggal 22-9-2005.
10. Sapartinah, meninggal dunia sewaktu kecil.
11. Ibu Titi Ruslainah, lahir pada tahun 1941 kembar dengan kakaknya Ruslandi. Sayang Ruslandi tidak berumur panjang. Ibu Titi Ruslainah menikah dengan Bapak Rusman Maulana dan dikaruniai 2 orang putra-putri serta 1 orang cucu.
12. Ruslandi, saudara kembar Ibu Titi Ruslainah, meninggal usia balita.
Foto resmi keluarga Ibu Mutmainah tahun 1959
Semasa penjajahan pak Ruslan selain menjadi guru juga pernah menjabat kepala desa didaerah pengungsian. Pada waktu itulah Ibu Mutmainah bersama ibu-ibu yang lain menyiapkan masakan untuk menjamu serdadu kita yang akan melintasi desanya.
Menurut Ibu Sabariyah -kakaknya ini merupakan kesayangan saudara-saudara semua, karena sifatnya yang tidak neko-neko dan sangat sederhana hidupnya. Beliau adalah saudara/kakak yang paling dekat karena desa Karang Sari itu letaknya tidak jauh dari Purwokerto. Bisa dijangkau dengan bus dan kereta api. Dengan adanya beliau di Karang Sari merupakan suatu tempat pelarian bagi Ibu Sabariyah dikala libur sekolah. Jika pulang dari Karangsari Ibu Sabariyah selalu dibawain oleh-oleh daun teh yang sudah kering,madu tawon ( tawon ini dipelihara Ibu Mutmainah didapur ) dan gula merah.
Ibu Mutmainah ditakdirkan mempunyai anak-anak dari nomor satu sampai empat putri semua dan umurnya sebaya dengan Ibu Sabariyah. Walaupun punya anak banyak tapi Ibu Mutmainah jarang sekali marah, karena anak-anaknya dianggapnya sebagai teman.
Di rumah Ibu Mutmainah ada seperangkat gamelan lengkap, yang biasa dimainkan oleh putra-putrinya. Ibu Sudinah putri kedua beliau pintar sekali memainkan gambang.
” Mbakyuku itu punya koleksi lelucon yang bisa membuat kami tertawa terbahak-bahak “, demikian kata Ibu Sabariyah sang adik mengakhiri wawancaranya dengan Diah Ayu Puruita.
Bahan : Buku Trah Mochamad Chasan Edisi Perdana 2008 dan hasil wawancara Diah Ayu Puruita dengan Ibu Sabariyah.
Sebagian keluarga Ibu Mutmainah pada reuni mini Trah Mochamad Chasan di Purwokerto tanggal 20 April 2008