Bapak Muhadi

bapak-muhadi” Ketika istirahat dan tertidur dikapal Heian Maru yang sedang berhenti di Singapura dalam perjalanan ke Jepang, Babahe bermimpi giginya lepas, rasanya sakit sampai terbangun. Dalam kepercayaan kami , kalau mimpi giginya lepas pertanda ada saudara yang meninggal. Dalam suratnya yang dikirimkan kepada saya Babahe menanyakan siapa yang meninggal. Saya balas surat itu bahwa yang meninggal itu ibu Mas Dari, yang katanya sih bude kami. Itulah surat Babahe yang terakhir”
Demikian Ibu Sabariyah mengawali kisah Muhadi-kakaknya yang tenggelam bersama Kapal Heian Maru di Singapura.
Siapakah Babahe ??
Babahe adalah panggilan kesayangan Mas Muhadi, anak nomer 9 pasangan Bapak Mochamad Chasan dan Ibu Tuminah. Phisiknya memang mirip Cina, kulitnya putih dan bermata sipit. Babahe punya teman yang akrab sekali, ngalor-ngidul kinthil, anaknya Cina yang punya toko besi dikota kami-Purwokerto. Mereka berdua seperti kakak-beradik. Oleh karenanya dia tidak pernah saya panggil Mas Muh. Saya selalu memanggilnya “Babahe”

Calon Takmir yang pinter masak.
Sebenarnya Mas Muhadi dicadangkan untuk menggantikan ayah sebagai takmir Masid Agung Purwokerto. Oleh karenanya mas Muhadi melanjutkan sekolah di Mambaul Ulum di Purwokerto yang tempatnya di masjid. Karena banyak tinggal dirumah maka mas Muhadi selalu menggantikan tugas di dapur menyiapkan makanan.

Babahe hijrah.
Ketika Mas Dahlan, kakakku yang nomer 7 pulang kampung dan melihat adik laki-lakinya sering bekerja didapur maka Mas Muhadi di bawa ke Surabaya.
Tentu saja aku merasa sangat kehilangan. Betapa tidak. Mas Muhadi alias Babahe merupakan satu-satunya saudaraku yang pada waktu itu tinggal dirumah, tempat kami selalu bercanda, bertengkar dan berolok-olok. Umur kami memang tidak jauh berbeda. Tetapi saya ikhlaskan perginya demi untuk kebaikannya dimasa depan.

Lama Babahe tidak pernah mengabarkan diri , sampai suatu hari datang juga muhadi-cssurat Mas Muhadi yang mengabarkan bahwa dia sudah bekerja sebagai Heiho-istilah yang saya fahami sebagai orang-orang yang bertugas membantu serdadu Jepang.Setelah itu surat Babahe bertubi-tubi datang. Mungkin Babahe sudah mempunyai uang untuk beli perangko disamping karena sangat rindu kampung halaman dan saudara-saudaranya.

Surat tentang mimpi gigi tanggal yang saya ceritakan diatas itulah akhir dari kontak saya dengan mas Muhadi alias Babahe.

Waktu itu perang memang dahsyat-dahyatnya. Pasukan sekutu memukul balik, baik yang jauh di Eropa maupun di Pasifik. Amerika menyerang Papua dan Philipina. Inggris menjatuhkan bomnya di wilayah yang ditinggalkanny antara lain Malaysia, Singapura dan lain-lainnya. Sampai perang berakhir saya tidak pernah mendengar kabar tentang mas Muhadi. Bertahun-tahun kami menunggu keajaiban akan datangnya Babahe yang hilang. Namun jangankan muncul orangnya, kabar beritanyapun tidak pernah kami dapatkan. Kalau masih hidup tentu dia akan kembali ke kampungnya karena dia sangat mencintai orang tua dan saudara-saudaranya.

Mas Muhadi kami anggap gugur sebagai tumbal Perang Dunia.

Sampai sekarang selalu saya panjatkan doa ke hadirat Sang Pencipta. Semoga arwahnya diterima disisi-Nya dan diampuni segala dosa dan kesalahannya.

Amin ya Robbal alamin

Disarikan dari hasil wawancara Anita Purwati /Ipung dengan Ibu Sabariyah
serta tulisan Ibu Sabariyah sendiri dan dimuat di Buletin Trah Mochamad Chasan.

heian-maruBersama Kapal Heian Maru inilah Bapak Muhadi kemungkinan ikut tenggelam ketika kapal ini di bom oleh Tentara Sekutu di Singapura

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s